23
Jul
08

CANTIK

Kecantikan perempuan terutama di Asia, khususnya  Indonesia -selalu diidentikkan dengan kulit putih, rambut panjang  hitam legam, hidung mancung, dan berbadan langsing. Stigma  “cantik”diberikan buat perempuan yang kebetulan mempunyai tubuh seperti  kriteria di atas, dan label “jelek” secara semena mena diberikan pada  perempuan yang secara kebetulan pula tidak memenuhi kriteria  diatas.

Gak ada perempuan yang mau mendapat predikat “jelek”,  atau “kurang manis”, atau “biasa biasa aja”, atau apapun sebutan yang  menerangkan bahwa dia kurang sedap dipandang mata. Semua perempuan saya yakin  ingin diberi pengakuan “cantik”, atau sekurang kurangnya “menarik” dari  lingkungan sekelilingnya.Predikat “cantik” bisa membuat seorang perempuan  merasa lebih percaya diri, lebih bahagia, dan -mungkin- lebih  mensyukuri kehadirannya di dunia. Predikat “jelek” sebaliknya,  bisa membuat seorang perempuan merasa rendah diri, tidak berharga,malu  akan dirinya sendiri, dan amit amit, bahkan bisa membuat seorang perempuan  bunuh diri saking sedihnya.

Sorang Tehmina Durrani dalam autobiografinya  menyatakan seumur hidupnya ia merasa sebagai itik buruk rupa walaupun ia  telah menjadi istri seorang Mustafa Khar, orang kedua dan tangan kanan PM.  Zulfikar Ali Bhutto hanya karena sedari kecil ia dikucilkan oleh ibunya  karena ia tidak berkulit putih. Mati matian neneknya melumuri tubuh dan  wajahnya dengan segala
macam ramuan supaya ia bisa menjadi putih dan tidak  dikucilkan oleh ibunya lagi. Sayang usaha neneknya gagal, dan ia  tetap tidak disukai ibunya hanya karena berkulit hitam

Di sebuah  klinik kecantikan non medis di Jakarta, perempuan
rela menghabiskan waktu  berjam berjam untuk menunggu giliran di”vermak” wajahnya oleh si “ahli  kecantikan”. Dan setelah tiba giliran…alamak….dia rela pula memberikan  hidungnya
yang sebetulnya tidak pesek pesek amat dijepit oleh  penjepit jemuran supaya lebih mancung.
Rela juga dia memberikan dagunya  dipijat pijat, dibentuk supaya mirip dagunya Paramitha  Rusady.

Hasilnya ?, banyak orang bilang lebih mirip Elvis  Presley!

Banyak jalan juga untuk menjadi putih . tinggal pilih.  Dari
mulai pengelupasan kulit yang membuat perempuan jadi phobi  terhadap matahari. Matahari yang seharusnya disyukuri karena  sumber kehidupan dan juga sumber vitamin D, malah dianggap musuh terbesar  karena dokter dan/atau label produk kecantikan mengharamkan perempuan yang  sedang dikelupas kulitnya untuk kena sinar matahari. Untuk kelas murahan, ada  cream pemutih kulit “mai young” yang dijual hanya Rp. 15.000 perpaket.  Dijual bebas, jadi gampang diperoleh. Hasilnya ?mudah mudahan putih seperti  yang diharapkan. Resikonya ?, ya
paling bengkak bengkak seperti yang kemarin  disiarkan di TV.

Ingin langsing tapi malas sering sering olah raga di gym  dan diet teratur?. Jangan khawatir, banyak dijual obat langsing kok.  Ditanggung langsing dengan cepat, asal mau jantungnya
berdebar debar, keluar  keringat dingin dari kaki dan tangan,pusing tak bisa mikir, karena obatnya  mengandung amphetamin.
 

Atau kalau ogah mengkonsumsi obat obatan, coba  cara konvensional ini. Bulimia, atau Anorexia Nervosa. Dijamin kurus, tapi  dekat dengan kematian.

Singkat kata, banyak jalan pintas untuk menjadi  cantik. Celakanya, saking ingin disebut cantik perempuan banyak yang rela  untuk menantang bahaya. Padahal, cantik itu bukan
segalanya. Dan tentu saja,  tidak cantik bukanlah kiamat. Tapi bagaimana cara menyadarkan perempuan untuk  mensyukuri apapun yang ia miliki (termasuk kulit gelapnya) ketika hampir  semua produsen kosmetik menggembar-gemborkan image bahwa kulit putih
lebih  cantik daripada kulit gelap, rambut panjang lurus lebih cantik daripada  keriting, dan badan langsing dijamin lebih disukai laki laki, hanya supaya  produknya laku dijual ?.

Coba deh, hampir gak pernah kan kita denger  iklan seperti ini:
“Pakailah body lotion merk ‘anu’ yang dapat  menonjolkan keindahan kulit coklat anda, kecantikan khas Asia “. Ya,  kan ? Yang ada juga merk ‘ini’ untuk memutihkan. O, ada yang beda dikit,  merk ‘ono’, untuk kulit kuning. Putih dan kuning, sama aja kan , sama sama  terang.

Ide membuat tulisan ini muncul ketika hari ini saya  bertemu dengan sahabat SMP saya. It’s amazing to watch how we grow up to  be a totally different person. Sewaktu kami masih SMP, Kami punya hobi yang  sama, merawat tubuh. Saya ingat dulu kami senang sekali belanja sabun,  shampoo, dan lotion dengan wangi yang berganti ganti. Kami selalu pakai  jacket kemana mana walau panas minta ampun hanya karena tidak mau kulit  jadi hitam.

8 tahun kemudian, dia tumbuh jadi gadis yang terobsesi  untuk jadi gadis cantik (correct me if I’m wrong, Ra). Dia datang ke rumah  saya dengan rambut panjang pirang, kulit putih, tubuh langsing, dan make up  penuh.Selama ngobrol dengan saya, tak henti hentinya dia merapikan rambut  panjangnya. Waktu tangannya gatal, alih alih menggaruk dia cuma meniup niup  kulit tangannya dengan lembut. Takut berbekas mungkin.

Sedangkan saya,  di depan dia saya merasa bertransformasi menjadi itik buruk rupa. Berambut  pendek, tidak langsing, dan berkulit kuning. Oya, sebagai tambahan lagi,  dengan jerawat di
pipi kiri saya dan muka berminyak yang tidak saya lap  dengan tissue penyerap minyak. Tak berlipstik, lagi. Bukan tipe pesolek  sih.

70% pembicaraan kami tadi adalah -lagi lagi-  kecantikan.Kecantikan menurut standar dia tentunya, dan saya sudah  pasti tidak termasuk dalam hitungannya. Saya malah dikata katai
’emak  emak’ ketika dia lihat foto saya berkebaya, yang memang memperlihatkan betapa  tidak langsingnya saya. Bumper depan belakang, kata teman teman.

But  you know what, I’m not angry at all. Saya malah kasian waktu dengar komentar  dia. Saya kasian sama dia, saya kasian sama penganut falsafah ‘cantik’  haruslah langsing-putih-rambut panjang lurus, saya kasian sama gadis gadis  yang tidak termasuk kriteria ‘cantik’ menurut dia padahal smart.

Saya  punya banyak teman yang jadi model, sampai terkenal bahkan. Saya juga punya  banyak teman yang bukan model. Tapi bagi saya, model ataupun bukan, mereka  tetap sama cantiknya di mata saya. Mereka menarik, mereka punya sifat dan  kebiasaan yang berbeda beda yang membuat mereka jadi unik satu  sama lainnya. Mata sipit bisa membuat seorang perempuan jadi manis, lihat  Lucy Liu. Mata belo bisa buat perempuan terlihat mendayu dayu, lihat Inez  deLa Fressange. Rambut Panjang memang anggun,seperti Nicole Kidman. Tapi  Drew Barrymore juga seger kok dengan rambut pendeknya. Seksi kayak Jennifer  Lopez emang bisa bikin cowok ngiler, tapi Hughes yang ndut juga bisa bikin  teman cowok saya tergila gila
saking smartnya. Jihan Fahira yang pesek bisa  sama bekennya dengan Yana Zein yang idungnya ‘bule’ banget  saking mancungnya.

Oleh karena itu para perempuan, cintailah tubuhmu  sendiri. seperti apapun bentuknya. Perbedaan itu memang sengaja diciptakan  oleh Tuhan supaya dunia ini indah & penuh warna. Saya rasa, dunia akan  terasa lebih asyik kalau kita menyadari bahwa kecantikan dalam tetap  harus lebih diutamakan daripada tampilan luar.

Kalau boleh  saya ngutip lirik lagunya Simply Red, baca deh:

 

You’re so beautiful,  but oh, so boring
I’m wondering what am I doing here
So  beautiful, but oh, so boring
I’m wondering if anyone out there really  cares
About the curlers in your hair ?


Coba kalau kita jadi  perempuan yang cantik banget tapi di kencan pertama ada cowok yang nyanyi  lagu itu untuk kita karena kita gak enak diajak ngobrol, ngebosenin, dan gak  punya
wawasan? Pahit, kan ? Gak mau, kan ?

Bete abisss !!!

Saya  sendiri, dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, saya menganggap diri  saya cantik. Bukan karena nilai PD di rapor saya 10, tapi karena saya percaya  Tuhan tidak akan dengan sengaja menciptakan umat-Nya buruk rupa. Dia kan   Maha Penyayang . Pelukis aja menciptakan lukisan yang sebaik baiknya walau  alirannya abstrak dan gak dimengerti oleh banyak orang.

Saya harap  tulisan ini dapat membawa manfaat bagi para perempuan, sekecil apapun. Setidaknya memberi dorongan moral buat yang lagi merasa tidak pede. Kalau  kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri, siapapun TIDAK BERHAK  untuk
menilai kita tidak cantik!

Best Regards,

-Kathy  Saelan-


0 Responses to “CANTIK”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: