23
Jul
08

Diakah “soul mate”-ku?

Nice article…
Buat kalian teman2 ku yang membenarkan adanya perselingkuhan sebagai
sarana untuk mencari kebahagiaan. ..

Baru-baru ini seorang rekan – sebut saja Johan – curhat
pada saya, “Gue sedang jatuh cinta ama Lisa. Gue rasa, dialah soulmate gue
yang sebenarnya.”

Lisa adalah staf yang baru bekerja setahun di tempat kerja
kita. Wajahnya memang cantik. Tubuhnya imut-imut kecil, kulitnya putih,
potongan tubuhnya sangat seksi dan menarik. Apalagi busananya… .
hmm…. rasanya Anda tidak akan sanggup melepaskan pandangan Anda pada
busananya yang “super irit” atas-bawah.

Anda menangkap ada yang aneh dari curhat teman saya? Tentu
tidak. Tapi gimana kalau Anda mengetahui latar belakang Johan yang
sebenarnya telah punya istri dan 3 orang anak? Tentu Anda akan seperti saya,
mencak-mencak!

“Gile lo. Kan elo udah nikah. Artinya istri lo tuh ya soulmate-mu. “

“Bukan,” bantahnya. “Istriku adalah istriku. Tapi soulmate-ku adalah
Lisa.”

APA ITU SOULMATE?

Gosh…!!! Dunia emang sudah gak beres ya? Ada aja alasan
yang dipakai orang untuk membenarkan tindakan keliru yang dibuatnya.
Saya pun baru menyadari kalau diam-diam, Johan dan Lisa sudah berhubungan
sangat dalam selama lebih dari setahun belakangan ini. Padahal di
kantor, keduanya tidak pernah bertutur sapa – apalagi saling lirik –
seolah-olah mereka saling bermusuhan. Gak tahunya, di balik itu semua, mereka
sedang bermain sandiwara.

Tapi omong-omong, apa sih Soulmate itu? Masing-masing orang
punya pandangan sendiri. Bagi saya, Soulmate adalah pasangan
hidup yang kita temukan saat melakukan sosialisasi dengan lingkungan.
Ketika kita menemukan seorang lawan jenis yang cocok dalam
bercakap-cakap, bertingkah laku, dan kesenangan / hobi, maka ada
kemungkinan dialah soulmate kita. Dan ketika kita memutuskan untuk menikahi
lawan jenis kita, saat itulah kita telah menemukan SOULMATE kita itu.

Soulmate ibarat “sesuatu” yang hilang dalam hidup kita, yang kita cari seumur hidup untuk melengkapi kekosongan jiwa kita. Dia adalah bagian tulang rusuk kita, yang terambil pada saat Allah melakukan penciptaan di muka bumi ini. Dia adalah “YANG TERBAIK” dari Allah karena Allah melihat ciptaan-Nya “baik adanya” (lihat Kejadian 1).

APAKAH “SOULMATE” KITA LEBIH DARI 1?

Allah jelas mengatakan dalam Kejadian 1, bahwa Soulmate kita
hanyalah 1 orang. Lihatlah teladan yang diberikan Allah. Dia menciptakan
HANYA 1 orang Adam dan 1 orang Hawa. Ketika mereka jatuh
dalam dosa, Allah TIDAK PERNAH menciptakan lagi manusia lain. Adam dan
Hawa bersama-sama berjuang dalam kesusahan sebagai manusia
pendosa. Mereka mengisi bumi dengan keturunan-keturunan mereka dengan jerih
payah dan perjuangan yang luar biasa. Renungkan Kejadian 1, di mana
hanya ADAM dan HAWA yang berjuang. Tidak ada Pria Lain dan tidak ada
Wanita Lain. Hanya berdua.

Artinya : SOULMATE itu hanya 1. Engkau telah menemukan
SOULMATE-mu ketika kau memutuskan untuk menjalankan sisa hidupmu
bersama dengannya SELAMANYA, yaitu saat kalian memutuskan untuk menikah.

MUNGKINKAH AKU KELIRU MEMILIH “SOULMATE”?

Mencari soulmate ibarat mencari kunci gembok di lautan
kunci. Ada jutaan kunci, tapi hanya ada 1 yang tepat untuk membuka gembok.
Anda punya waktu untuk mencari. Tapi waktu Anda tidaklah banyak.
Karena itu, Anda butuh “Ahli Kunci” yang mampu memilihkan kunci
yang tepat untuk Anda. Siapa dia? Dialah ALLAH. Ketika kau sedang dalam
pencarian pasangan, doakanlah dia. SELALU. Mulai dari engkau baru
pertama kali mengenalnya, hingga pacaran, dan menikah.

Anda SALAH BESAR jika berkata telah keliru memilih
“Soulmate”. Jika dia bukan “soulmate”-mu, maka kalian tidak akan
pernah menikah. Ingatlah, perjumpaanmu dengan seseorang bukanlah kebetulan. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Mintalah bimbinganNya agar Anda tidak keliru
memilih.

Tapi bagaimana kalau pasangan kita bersikap kasar? Ringan
tangan? Jorok? Menyebalkan? Memuakkan? “Jika dia benar-benar
“soulmate”-ku, tentu tidak akan demikian padaku.” Benarkah?

Anda harus belajar pada diri dan tubuh Anda sendiri. Ketika
susah buang air besar, apakah Anda akan berdiam diri? Anda tentu akan
berusaha sekuat tenaga agar Anda bisa buang air. Entah makan pepaya,
pencahar, apapun. Pernahkah terpikir untuk mendiamkan saja? “Toh
ada mulut, hidung, atau telinga. Kalo gak bisa keluar lewat pantat,
masih ada “lubang” lain yang bisa dipakai feses untuk keluar.”

Logikanya kan begitu? Tapi mekanisme tubuh tidak demikian.
Anda justru berusaha agar feses keluar sesuai “tempatnya”.
Lewat pantat. Bukan lewat hidung atau mulut Anda. Mengapa demikian? Karena tubuh dan diri Anda adalah “soulmate”. Kalian tahu apa yang harus
dilakukan dan kalian saling bekerja sama agar segalanya berjalan semestinya.

Ketika Anda tahu pasangan Anda menyebalkan, memuakkan,
menjijikkan, Anda harus mengarahkan pasangan Anda. Cari penyebabnya, dan
bersama dengannya, mengubah hal yg menyebalkan Anda itu. Itulah
fungsi “soulmate”. Anda membantu pasangan Anda mengisi
apa yang kurang darinya. Dan pasangan mengisi apa yang kurang dari Anda. Dengan
demikian, pada akhirnya semua berjalan sebagai mana mestinya.

Yang harus Anda ingat : Soulmate memang sesuatu yang hilang dalam hidup kita. Tapi engkau sebenarnya telah menemukannya ketika memutuskan untuk
menjalani sisa hidupmu bersamanya dalam ikatan pernikahan. Nonsens-lah Anda berkata telah “keliru memilih soulmate”. Itu
artinya Anda tidak berani mengambil tanggung jawab atas pilihan Anda sendiri.
Ketika Anda berpikir Anda salah memilih “soulmate”, bukalah
Kejadian 1 dan renungkanlah perjuangan Adam dan Hawa BERDUA dalam
menjalani hidup. Apakah mereka keliru memilih “soulmate”? Jika
benar mereka keliru, harusnya Allah memberikan lebih banyak “pilihan”
pada Adam dan Hawa kan ?
Faktanya : Allah tetap mempertahankan mereka berdua sebagai pasangan
karena Allah ingin mengajarkan hidup setia. (Bayangkan, tulang rusuk
kita ada 22 pasang. Jika saja Hawa bukan “soulmate” Adam, Allah bisa saja menciptakan 22 perempuan dan 22 laki-laki untuk dipilih oleh Adam dan Hawa).

So… buat sobatku, Johan. Nasihatku padamu – dan aku tidak
bosan2-nya untuk menasihatimu akan hal ini – lupakan Lisa. Dia bukan
“soulmate”mu. Kembali pada keluargamu. Cintailah mereka sepenuh hatimu.

Dan buat rekan2 yang punya selingkuh di luar sana , apapun
alasan kalian pada pasanganmu (mereka cerewetlah, joroklah, tidak perduli
padamu, ….), ingatlah bahwa kalian dipersatukan Tuhan dalam tali
pernikahan bukan tanpa alasan. Anda punya arti dalam hidup pasanganmu.
Coba… perbaiki hubunganmu dengannya. Dialah “soulmate”mu yang sebenarnya.

 

Pernikahan ada untuk dijaga, diperjuangkan dan dipertahankan..

Bukan untuk disia siakan kemudian mencari pengganti yang baru..

Dengan dalih ” dia bukan my soulmate” .

 

 

 

 

 


0 Responses to “Diakah “soul mate”-ku?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: